Laman

Sabtu, 05 Maret 2016

Prompt #105 - Return


Aku baru saja bertengkar hebat dengan Mama dan pergi keluar. Kemudian cahaya mobil menusuk mataku hingga gelap. Ketika aku terbangun, aku berada di rumah sakit ini.

Kutengok kalender. 29 Februari 1996. Bercanda! Ini hari lahirku. Kulihat cermin. Diriku tetap diriku. Pemuda berumur 20 tahun. Tak berubah. Tapi, kenapa aku di sini? Tiada satu pun petunjuk. Tak ada orang. Hanya ada gumaman dari ujung lorong yang tak sengaja kudengar.

“Lucu, ya? Mancung. Besok sisa uangnya segera kami transfer.”
Seorang pasutri tengah menggendong bayi di tangan mereka.
“Bagus kalau begitu, saya turut senang.”
“Lalu bagaimana orang tua aslinya?
“Tenang saja. Saya sudah membereskannya.”

Perdagangan bayi. Sialan! Pasutri itu lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Aku tak kenal mereka atau pun bayinya. Tapi hatiku tergugah untuk merebut bayi itu, dan mengembalikannya ke rumah sakit meski aku tak tahu siapa orang tuanya. Kukejar mereka, kutodong, kurebut bayinya, kemudian kupergi jauh.

Namun ketika bayi itu sudah di tanganku, matanya terbuka, menatapku polos. Satu hal yang kutahu, itu mataku. Bodoh! Jadi ini alasanku ke sini. Kalau begitu, sudah kutahu harus ke mana kukembalikan bayi ini, ke Nyonya Sujiwo yang menjengkelkan itu. Oh lucunya, sampai-sampai air mataku menetes.

Mama, ini kubawa “aku” kembali ke timanganmu. Jaga aku, ya.






Untuk Prompt #105 “29 Februari” Monday FlashFiction, untuk Mama dan seluruh mama di seluruh dunia. Duh ilah, gue jadi baper :’)

1 komentar: